Iseng-iseng browsing cari-cari artikel tentang keberatan nama, maksudnya orang yang sakit-sakitan karena arti namanya tidak cocok dengan auranya. Mungkin arti namanya terlalu bagus jadi keberatan, akibatnya orang tersebut jadi suka sakit-sakitan, sering sial dsb, percaya ngga percaya deh. Tapi sejujurnya…jadi tersugesti juga sih.
Nah kalo gitu ayo kita itung-itungan nama ala Jawa. Ini artikelnya, diambil tanpa pamit, punten yah sama yang punya artikel
. Tapi ngga tau ya, ada efeknya ga ya sama orang yang namanya bukan nama Jawa atau bukan orang Jawa. Wallahu’alam.
Baik-buruknya nama, menurut perhitungan Jawa (neptu), didasarkan pada susunan aksara Jawa (ha, na, ca, ra, ka, da, ta, sa, wa, la, pa, dha, ja, ya, nya, ma, ga, ba, tha, nga). Setiap aksara diasumsikan memiliki nilai berbeda. Ha, da, pa, ma, masing-masing dinilai 1. Na, ta, dha, ga, nilainya 2. Ca, sa, ja, ba = 3. Ra, wa, ya, tha = 4. Ka, la, nya, nga = 5.
Angka-angka itu kemudian dipakai untuk menghitung nilai total dari nama seseorang yang dijumlahkan dari nilai setiap penggalan suku kata. Contoh, nilai keseluruhan nama Susanto adalah Su (sa=3) + san (sa=3) + to (ta=2) = 8.
Nilai total dari nama itu selanjutnya diproyeksikan pada lima unsur yang menunjukkan “cocok tidaknya nama”, yang meliputi lima unsur, “Sri”, “Lungguh”, “Gedhong”, “Loro”, “Pati”. Menghitungnya dimulai dari satu (Sri), dua (Lungguh), tiga (Gedhong), empat (Loro), dan lima (Pati). Setiap habis kelipatan lima, hitungan kembali dimulai dari angka satu (Sri) sampai lima (Pati), begitu seterusnya. Misal, nilai nama Susanto = 8, dihitung mulai dari satu (Sri), dua (Lungguh), tiga (Gedhong), empat (Loro), lima (Pati), enam (Sri), tujuh (Lungguh), delapan (Gedhong).
Jadi, nama Susanto (dengan angka total 8 ), jatuh pada unsur “Gedhong”. “Artinya, insya Allah, kelak si pemilik nama itu akan bergelimangan harta dalam hidupnya,” jelas Iin SP.
Menurut tradisi Jawa, unsur “Sri”, “Lungguh”, dan “Gedhong” dianggap mewakili unsur kecocokan nama. Sebaliknya kalau jatuh pada unsur “Loro” dan “Pati”, nama itu dianggap tidak cocok bagi yang bersangkutan.
Kelima unsur itu masing-masing memiliki arti konotasi yang berbeda. “Sri” memiliki arti yang positif (bahagia, kemakmuran, keberuntungan, mulia, dan sukses segalanya). Juga “Lungguh” dan “Gedhong” mengandung arti yang positif, yakni baik dalam kedudukan (jabatan) dan ekonomi (harta), tapi biasanya masih ada kekurangan di sisi lain, seperti sakit, rumah tangga diselilingi cekcok atau kurang harmonis. Sebaliknya unsur “Loro” dan “Pati” punya konotasi negatif. Unsur “Loro” menggambarkan hidup tersendat-sendat, sakit-sakitan, kurang mujur, banyak sial, banyak menderita. Unsur “Pati” menyimpan makna umur yang pendek.
Dalam perhitungan nama ala Jawa, huruf hidup (A, I, U, E, O) yang berdiri sendiri tidak ikut dihitung atau diabaikan (nilainya = nol). Misalnya, cara perhitungan nama Hariyanto berbeda dengan Ariyanto. Kalau Hariyanto = Ha(ha=1) + ri(ra=4) + yan(ya=4) + to(ta=2) = 11 (unsurnya Sri). Ariyanto = A(diabaikan=0) + ri(ra=4) + yan(ya=4) + to(ta=2) = 10 (unsurnya Pati).
Kalo gitu…
Irawan Septiana Kosasih = Ra-Wa Sa-Ta-Na Ka-Sa-Sa = 26 = SRI !!! (bahagia, kemakmuran, keberuntungan, mulia, dan sukses segalanya). Amin Amin Amin Amin Amin Ya Allah Ya Rabbal Alamin.